Hari
Berlangganan melalui Email
Berlanganan
Ikuti saya di facebook
Facebook
Ikuti saya di twitter
Twitter
Advertise | Hubungi Saya | Buku Tamu | About us | Kegiatan | Peta Situs

Terjemah

Followers

Kirim Pesan

Name

Email *

Message *

Proses Terbentuknya Batu Akik di Perut Bumi

Phylopop.com - Phylovers penggila batu akik? Rasanya kurang lengkap jika tidak mengetahui bagaimana proses terbentuknya batu akik secara alami dalam perut bumi. Phylopop merangkumnya dalam artikel berikut agar Phylovers pecinta batu akik tahu dan menambah kecintaan pada batu yang lagi naik daun itu.

Batuan mulia merupakan anggota elite dari mineral alam. Disebut elite karena dari sekitar 3.000 jenis mineral di Bumi, hanya terdapat 150-200 yang bisa digolongkan jenis batu mulia.

Indyo Pratomo, geolog dari Museum Geologi Bandung, mengatakan, sebagaimana mineral alam lainnya, pembentukan batu mulia terjadi melalui proses geologi sebagaimana batuan lainnya, misalnya melalui diferensiasi magma, metamorfosa, atau sedimentasi.

Awalnya adalah aktivitas dapur magma di perut Bumi. Batuan cair bersuhu di atas 1.000 derajat celsius ini terus bergerak dalam selubung atau mantel Bumi. Di luar mantel ini adalah lapisan kerak Bumi, yang tersusun dari lempeng-lempeng yang terus bertumbukan dan menyisakan banyak retakan. Tekanan yang kuat dari dalam cenderung mendorong magma untuk mencari jalan keluar ke permukaan.

Ketika cairan superpanas dan bertekanan tinggi ini mulai naik, cairan ini akan melarutkan berbagai batuan lain yang telah ada. Terjadilah proses pelarutan atau ubahan hidrotermal.

Intan merupakan batuan yang terbentuk di lapisan luar mantel Bumi, di kedalaman hingga 161 kilometer. Di kedalaman ini, tekanan mencapai 4 gpa dan suhu hingga lebih dari 1.350 derajat celsius. Tekanan yang luar biasa kuat dan suhu yang luar biasa panas kemudian mengubah mineral karbon anorganik di kerak Bumi (beda dengan karbon organik yang membentuk batubara) yang dilewati hidrotermal ini menjadi kristal intan.

Kebanyakan intan yang kita temukan sekarang merupakan hasil pembentukan proses jutaan-miliar tahun yang lalu. Erupsi magma yang sangat kuat membawa intan-intan tersebut ke permukaan, membentuk pipa kimberlite, penamaan kimberlite berasal dari penemuan pertama pipa tempat intan berada tersebut di daerah Kimberley, Afrika Selatan.

Intan merupakan bagian dari batuan mulia yang memiliki keistimewaan karena kekerasannya. Dalam jajaran batu mulia, skala kekerasan intan mencapai 10 mohs, disusul batuan safir dan rubi (mirah delima) yang mencapai 9 mohs, zamrud mencapai 7-8 mohs. Batuan akik atau yang dalam istilah gemstone digolongkan sebagai batuan setengah mulia memiliki kekerasan kurang dari 7 mohs.

Berbeda dengan intan, batuan akik terbentuk saat larutan hidrotermal semakin mendingin karena semakin dekat permukaan. Sambil berjalan ke atas, dia mengisi rekahan dan pori-pori batuan, dan bahkan mengisi fosil kayu sehingga membatu. "Batuan akik terbentuk oleh tudung-tudung silika atau larutan hidrotermal, yang tidak terlalu jauh dari permukaan. Temperaturnya kira-kira 300 derajat celsius," kata Sujatmiko, geolog yang juga Sekretaris Jenderal Masyarakat Batu Mulia Indonesia.

Menurut Sujatmiko, batuan akik ini bisa ditemui hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dari 34 provinsi di Indonesia, hanya Jakarta tidak mempunyai batuan akik. Sementara intan, sejauh ini hanya ditemukan di Kalimantan. "Intan yang ditemukan di Kalimantan sejauh ini bukan berasal dari intinya, melainkan batuan intan yang dari sumber sekunder yang diendapkan atau dibawa oleh air dari tempat lain. Para geolog sudah sejak zaman Belanda memburunya, tetapi tidak ketemu sumber primernya seperti yang ditemukan di Kimberley," katanya.

Kekayaan batuan mulia dan setengah mulia ini karena aktivitas geologi Indonesia sejak jutaan tahun lalu. Sejauh ini, aktivitas geologis tertua di Indonesia yang terlacak terjadi sekitar 400 juta tahun lalu, ditemukan dari fosil sejenis kerang yang berada di puncak gunung-gunung di Papua. Ini menandai adanya aktivitas tektonik luar biasa sehingga bisa mengangkat dasar laut hingga membentuk pegunungan tertinggi di Indonesia.
»»  Selengkapnya

Evaluasi Diklat Model Kirkpatrick

Phylopop.com - Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) adalah komponen penting dalam system diklat.  Tanpa evaluasi, kita tentu saja tidak mengetahui apakah program diklat yang diselenggarakan oleh suatu lembaga diklat berhasil atau tidak.  Tingkat pencapaian efektifitas dan efisiensi suatu program diklat dapat diketahui dari hasil evaluasi diklat yang kemudian dapat dijadikan masukan dan bahan pertimbangan dalam pengendalian diklat sekaligus untuk bahan penyempurnaan diklat di waktu yang akan datang.
Mengukur efektivitas program pelatihan membutuhkan waktu dan sumber daya yang berharga.  Banyak program pelatihan yang gagal memberikan manfaat yang diharapkan organisasi.  Karena itu, memiliki sistem evaluasi yang terstruktur dengan baik akan membantu organisasi menentukan letak permasalahnya.  Salah satu model evaluasi pelatihan yang umum dikenal adalah evaluasi pelatihan Kirkpatrick.  Berikut ini akan dibahas tahapan evaluasi pelatihan menurut Kirkpatrick berikut penerapannya di lembaga diklat seperti Balai Diklat Keagamaan (BDK) Bandung. 
A.Evaluasi Pelatihan Kirkpatrick
Donald Kirkpatrick pada akhir 1950-an mengembangkan suatu model untuk mengukur efektivitas program pelatihan melalui suatu evaluasi dikarenakan beberapa  alasan diantaranya adalah :
a.Mempertanggungjawabkan keberadaan bagian Diklat dengan menunjukkan bagaimana bagian ini berkontribusi terhadap tujuan dan cita-cita organisasi.
b.Membuat keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan program-program pelatihan.
c.Mendapatkan informasi bagaimana mengembangkan program-program pelatihan selanjutnya.
Model yang umum dikenal dan digunakan ini  telah diadaptasi dan dimodifikasi oleh beberapa penulis, walau demikian  struktur dasar yang terdiri dari empat tingkat model Kirkpatrick tetap digunakan sampai sekarang.  Ke-4 tahap proses yang dikenal dengan The four level evaluation, merupakan serangkaian proses yang dinamis. Empat tahap evaluasi itu adalah:
a.Reaction (Reaksi). 
Evaluasi ini dilakukan pada saat dan setelah menerima materi pelatihan, yakni evaluasi untuk mengukur minat dan reaksi peserta atas pelatihan.
b.Learning (Pembelajaran). 
Disebut juga evaluasi hasil belajar. Evaluasi ini dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman peserta setelah menerima pembahasan dari para pelatih setiap sesi pelatihan. Penilaian terhadap tingkat pemahaman ini sangat penting untuk mengetahui apakah peserta materi yang diberikan dalam pelatihan.
c.Behavior (Perilaku) . 
Evaluasi ini dilakukan setelah pelatihan. Tujuannya untuk melihat bagaimana perilaku peserta setelah mengikuti pelatihan, langkah – langkah apa yang sudah dilakukan serta bagaimana sikap stake holder terhadap hasil pelatihan.
d.Result (Hasil). 
Merupakan evaluasi jangka panjang, yakni evaluasi mengenai kinerja lembaga yang terjadi akibat kinerja anggota organisasi yang mengikuti pelatihan. Evaluasi ini dapat dilakukan tiga sampai empat tahun setelah pelatihan.
Tahapan-tahapan di atas tentunya dilakukan secara berurutan atau disesuaikan pada sampai dimana organisasi/lembaga diklat menetapkan tujuan evaluasi. Meskipun demikian, evaluasi yang berurutan sesuai level akan dapat memberikan informasi yang lebih lengkap walau evaluasi pada tahap yang lebih tinggi akan memakan waktu yang lebih lama dan sulit.
B.Penerapan Model Evaluasi Kirkpatrik
Penerapan model evaluasi empat level dari Kirkpatrick dalam pelatihan dapat diuraikan dengan persyaratan yang diperlukan sebagai berikut.
Level 1: Reaksi 
Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini yang merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Komponen-komponen tersebut berikut indikator-indikatornya adalah: 
1.Instruktur/ pelatih. 
Dalam komponen ini terdapat hal yang lebih spesifik lagi yang dapat diukur yang disebut juga dengan indikator. Indikator-indikatornya adalah kesesuaian keahlian pelatih dengan bidang materi, kemampuan komunikasi dan ketermapilan pelatih dalam mengikut sertakan peserta pelatihan untuk berpartisipasi. 
2.Fasilitas pelatihan. 
Dalam komponen ini, yang termasuk dalam indikator-indikatornya adalah ruang kelas, pengaturan suhu di dalam ruangan dan bahan dan alat yang digunakan. 
3.Jadwal pelatihan. 
Yang termasuk indikator-indikator dalam komponen ini adalah ketepatan waktu dan kesesuaian waktu dengan peserta pelatihan, atasan para peserta dan kondisi belajar. 
4.Media pelatihan. 
Dalam komponen ini, indikator-indikatornya adalah kesesuaian media dengan bidang materi yang akan diajarkan yang mampu berkomunikasi dengan peserta dan menyokong instruktur/ pelatihan dalam memberikan materi pelatihan. 
5.Materi Pelatihan. 
Yang termasuk indikator dalam komponen ini adalah kesesuaian materi dengan tujuan pelatihan, kesesuaian materi dengan topik pelatihan yang diselenggarakan. 
6.Konsumsi selama pelatihan berlangsung.
Yang termasuk indikator di dalamnya adalah jumlah dan kualitas dari makanan tersebut.
7.Pemberian latihan atau tugas. 
Indikatornya adalah peserta diberikan soal.
8.Studi kasus. 
Indikatornya adalah memberikan kasus kepada peserta untuk dipecahkan. 
9.Handouts. 
Dalam komponen ini indikatornya adalah berapa jumlah handouts yang diperoleh, apakah membantu atau tidak. 
Bagi penyelenggara diklat seperti Balai Diklat Keagamaan (BDK) Bandung, evaluasi untuk level 1 pada setiap diklat yang diselenggarakan telah berjalan dengan baik.  Sebagai contoh, penyelenggara menyiapkan 2 (dua) bentuk evaluasi yaitu evaluasi terhadap pengajar/widyaiswara dan evaluasi terhadap penyelenggara diklat.  Evaluasi terhadap pengajar/widyaiswara meliputi penguasaan materi, sistematika penyajian, kemampuan menyajikan, penguasaan metode dan sarana, ketepatan waktu, sikap dan prilaku, cara menjawab pertanyaan, penguasaan bahasa, pemberian motivasi, pencapaian tujuan, kerapihan berpakaian dan kerjasama tim.  Sedangkan evaluasi terhadap penyelenggara diklat meliputi unsur kepesertaan, kepanitiaan, kurikulum, widyaiswara, akomodasi, konsumsi dan sarana diklat.  
Dengan demikian, dengan kepuasaan peserta atau reaksi peserta terhadap pelaksanaan diklat yang diselenggarakan dapat dibaca dari hasil evaluasi walau masih dirasakan bahwa peserta belum maksimal/obyektif untuk memberikan saran/komentar.  
Level 2: Pembelajaran 
Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan. Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan. Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan. Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.
Untuk level ini, setiap jenis diklat yang diselenggarakan di BDK Bandung memang telah mempersiapkan soal-soal untuk menguji kemampuan awal peserta diklat atau yang disebut pre-test dan soal untuk mengukur kemampuan setelah pelatihan yang disebut post-test.  Hasil pre-test dan post-test biasanya dilaporkan pada akhir pelaksanaan diklat hanya disayangkan soal-soal pre-test dan post-test memang belum ada yang menganalisis untuk mengetahui bagian mana atau materi mana yang perlu ditingkatkan pada pelaksanaan diklat sejenis yang akan datang.  
Level 3: Perilaku
Pada level ini, diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku peserta dalam melakukan pekerjaan. Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/kompetensi di unit kerjanya masing-masing.
Rencana Tindak Lanjut (RTL) atau rencana aksi merupakan salah satu bentuk evaluasi pada level ini untuk mengetahui perilaku apa yang akan peserta lakukan setelah mendapatkan materi-materi pelatihan atau apa yang akan peserta rencanakan di tempat tugas masing-masing setelah mengikuti pelatihan.  Beberapa diklat di BDK Bandung telah mencantumkan RTL dalam kurikulum diklat dan perlu dipikirkan kembali untuk mengembangkan pada setiap jenis diklat yang akan dilaksanakan.
 Level 4: Hasil
Tujuan dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan disumbangkan kepada perusahaan/organisasi sebagai pihak yang berkepentingan. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata bagi perusahan dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil. Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki. 
Evaluasi paska diklat adalah salah satu cara yang dilaksanakan oleh BDK Bandung untuk mengetahui dampak dari pelatihan baik untuk diri sendiri, rekan sejawat dan secara umum untuk organisasi. Walau harus diakui untuk evaluasi pada tahap ini masih sulit untuk diukur.
Penutup
Teknik evaluasi pelatihan dari Kirkpatrick yang terdiri dari empat tingkat evaluasi yaitu reaksi, pembelajaran, perilaku, dan hasil sampai saat ini masih diperhitungkan untuk digunakan oleh organisasi penyelenggara diklat untuk mengukur kebehasilan suatu program diklat.  Walau, Kirkpatrick sendiri mengakui bahwa  evaluasi pada tingkat keempat yaitu hasil, masih sulit untuk diukur. Kesulitannya adalah kemampuan untuk memisahkan pelatihan dari banyak variabel lain yang dapat mempengaruhi kinerja jangka panjang.  Yang jelas, suatu pelatihan harus memberikan konsep dan ketrampilan kepada peserta sehingga dapat dimanfaatkan oleh organisasi.
Daftar Pustaka
Antheil, J.H., & Casper, I.G. (1986). Comprehensive evaluation model: A too] for the evaluation of non traditional educational programs. Innovative Higher Education, 11 (1), 55-64. 
Dixon,N.M. (1987).Meet training`s goals without reaction forms. Personnel Journal, 66(8),108-115. 
Endres, G.J., & Kleiner, B.H. (1990). How to measure management training and development effectiveness. Journal of European Industrial Training, 14(9), 3-7. 
Patrick, Donal, L. (2008), Evaluating Training Programs. The Four Level. (1st ed). San Fransisco, Berret – Koehler Publishers.
Rae, Leslie. (2005), Using Evaluation in Training and Development. Ed. Terjemahan.  Jakarta, Bhuana Ilmu Populer. 

Penulis:
Ryna Rachmawati
»»  Selengkapnya

Pelaksanaan Diklat Berbasis Blog

PHYLOPOP.comInternet merupakan jaringan informasi dan komunikasi buah revolusi dalam perkembangan teknologi. Teknologi informasi dan komunikasi terjadi karena adanya konvergensi antara teknologi komunikasi, komputer, dan penyiaran (broadcasting). Jaringan internet telah menjadi kebutuhan banyak orang, sehingga mempengaruhi berbagai kehidupan. Internet berkembang dari media pertukaran informasi menjadi sarana untuk melakukan berbagai kegiatan, termasuk dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran.

Untuk itu dunia pendidikan perlu membuat sebuah sistem pendidikan berbasis pada internet agar dapat menjangkau pengguna yang selama ini memiliki kendala berkaitan tempat (geografis) dan terbatasnya waktu untuk mendapatkan pendidikan. Sedangkan lembaga pendidikan penyelenggaran pembelajaran jarak jauh harus sudah memiliki jaringan global yang terkoneksi dengan internet. Internet ini memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan aplikasi berbasis web. Layanan yang diberikan intrernet antarta lain website (www), web blog (blog), e-mail, transfer file (FTP) dll.

Dalam pembahasan ini, penulis perlu menjelaskan dua layanan yang mirip tapi tak sama, yakni website dan blog.

World Wide Web (WWW) adalah kumpulan dari halaman-halaman situs, yang biasanya terangkum dalam sebuah domain atau sub domain, yang tempatnya berada di dalam World Wide Web (WWW) di Internet. Sebuah halaman web adalah dokumen yang ditulis dalam format HTML (Hyper Text Markup Language), yang hampir selalu bisa diakses melalui HTTP, yaitu protokol yang menyampaikan informasi dari server website untuk ditampilkan kepada para pemakai melalui web browser. Semua publikasi dari website-website tersebut dapat membentuk sebuah jaringan informasi yang sangat besar.

Lalu apa itu blog? Blog adalah singkatan dari “web log”. Blog adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan atau posting, pada sebuah halaman blog umum. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urut terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama). Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna Internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si admin/pemilik blog tersebut.

Dalam hal ini penulis memilih blog sebagai media Diklat jarak jauh, tentu dengan berbagai pertimbangan dan alasan-alasan. 

Pemanfaatan Blog Untuk Pembelajaran Jarak Jauh

Website memang memiliki banyak kelebihan dibanding blog. Website tidak hanya dirancang untuk kebutuhan artikel semata. Website menyediakan banyak kelebihan khusus yang digunakan untuk kebutuhan tertentu seperti sistem absensi pegawai, sistem informasi perpustakaan, web SIA (Sistem Informasi Akademik), sistem informasi kepegawaian, bahkan E-Learning (pembelajaran online). Kelebihan khusus inilah yang tidak dimiliki layanan blog.

Dalam konteks pembelajaran jarak jauh, pemanfaatan blog menurut penulis jauh lebih efektif dibanding melalui layanan website. Bahkan dengan website yang sudah menyediakan layanan khusus E-Learning sekalipun. Beberapa alasan yang dapat penulis ajukan adalah sbb:

1.    Bersifat personal

Umumnya blog dipergunakan untuk kebutuhan personal seseorang. Karena itu, rasa kepemilikan terhadap blog jauh lebih tinggi dibanding website. Oleh karena itu, kecenderungan peserta Diklat untuk memanfaatkan blog sebagai media pembelajaran jarak jauh lebih intens dibanding dengan media website. Selain itu, meskipun dapat diakses secara mudah oleh semua orang, untuk keperluan tertentu blog bisa juga disetting agar hanya bisa diakses oleh peserta Diklat jarak jauh. Setelah Diklat jarak jauh berakhir, blog dapat disetting kembali agar dapat diakses secara terbuka oleh siapapun terhubung dengan internet.

2.    Murah bahkan gratis

Di dunia maya, tersedia banyak layanan blog gratis. Dua layanan blog yang umum dipergunakan orang adalah blogspot/blogger dan wordpress. Kedua layanan blog ini tersedia secara gratis. Jika ingin menggunakan layanan domain berbayar, kedua layanan blog ini dapat diintegrasikan agar menggunakan nama domain sesuai yang diinginkan, misalnya menggunakan nama orang atau perusahaan. Untuk pembelajaran jarak jauh, penulis menyarankan nama domain menggunakan nama peserta Diklat.

3.    Pembuatan mudah

Untuk mendapatkan layanan blog, hanya dibutuhkan alamat email. Umumnya untuk pembuatan blog harus menggunakan layanan email yang terintegrasi dengan blog. Misalnya hanya bisa menggunakan layanan email @gmail.com untuk membuat blog di blogger/blogspot. Email tersebutlah yang digunakan peserta Diklat untuk membuat blog sebagai media belajar jarak jauh. Dengan sedikit keahlian saja, seseorang dapat membuat blog dengan tampilan dasar yang standar.

4.    Isi dan tampilan dapat disesuaikan

Jika ingin memodifikasi agar mengoptimalkan tampilan, memang memerlukan keahlian khusus. Untuk mendapatkan keahlian khusus tersebut, misalnya untuk keperluan pembelajaran jarak jauh, pun sangat mudah, karena banyak blog atau website yang sudah menyediakan artikel tentang tutorial pembuatan blog. Dari tingkat dasar hingga mahir, sampai kepada teknik-teknik mendesain tampilan blog yang menarik. Isi atau konten dan tampilan blog dapat didesain sedemikian rupa untuk kebutuhan pembelajaran jarak jauh. Hal ini memang membutuhkan keahlian, keterampilan, kesabaran, dan ketelitian khusus. Namun jika peserta Diklat belum memiliki keahlian desain blog, penulis menyarankan untuk menggunakan tampilan dan desain yang sudah tersedia di layanan blog.

5.    Tidak memerlukan keahlian coding

Tanpa keahlian coding mustahil membuat sebuah website. Hal ini berbeda dengan pembuatan blog karena tampilan dan pengaturan halaman blog sudah tersedia. Peserta Diklat tinggal memilih jenis tampilan yang dibutuhkan atau sesuai selera masing-masing.

6.    Notifikasi langsung melalui email

Semua hal yang terjadi di sebuah blog dapat ternotifikasi secara langsung melalui email peserta Diklat sebagai pemilik. Hal ini memudahkan peserta Diklat pemilik blog untuk mengetahui setiap peristiwa yang terjadi di blog. Mulai dari posting bahan ajar (artikel) terbaru, komentar, balasan komentar, permintaan keanggotaan, dll. Tentu hal ini memudahkan peserta terutama jika tidak sedang membuka blognya.

7.    Bisa diatur siapa saja yang bisa memposting tulisan

Blog menyediakan pengaturan terhadap siapa saja yang boleh melakukan posting tulisan atau artikel di blog. Layanan ini memungkinkan posting bahan ajar tidak hanya bisa dilakukan oleh peserta pemilik blog, tapi juga bisa dilakukan oleh peserta lain yang bukan pemilik blog, namun tetap menggunakan identitas peserta yang melakukan posting. Layanan ini juga yang memudahkan penyebaran bahan pembelajaran antar peserta Diklat.

8.    Mudah bergabung menjadi member

Blog menyediakan layanan khusus untuk bergabung menjadi anggota atau untuk mengikuti artikel-artikel yang termuat di blog peserta yang diikuti. Layanan keanggotaan ini memungkinkan peserta yang menjadi anggota mendapatkan notifikasi melalui emailnya terkait semua tulisan atau artikel yang diposting di blog. Selain itu, layanan ini memungkinkan setiap peserta dapat melihat dan memantau semua bahan ajar yang diposting melalui blog pribadinya.

9.    Bahan ajar yang diposting terpantau di blog member

Semua artikel atau bahan ajar yang diposting di blog peserta Diklat akan secara otomatis terpantau di blog peserta yang lainnnya. Antar peserta dapat langsung saling membaca artikel yang diposting oleh peserta lain tanpa perlu mengunjungi blognya. Hal ini hanya bisa dilakukan jika antar peserta Diklat sudah saling menjadi anggota di blog peserta lain, atau dapat dilakukan melalui setting khusus di blog.

10. Keanggotaan member bisa diatur/dibatasi

Kelebihan lain dari blog adalah keanggotaannya bisa diatur. Dalam arti, peserta Diklat pemilik blog dapat mengatur siapa saja yang boleh menjadi anggota, dan boleh membaca artikel di blognya. Oleh karena itu, informasi atau bahan ajar hanya tersebar dan hanya dapat dibaca oleh anggota yang sudah ditentukan. Jika Diklat jarak jauh telah selesai, peserta pemilik blog dapat membuka akses blognya agar dapat dikunjungi oleh khayalak secara bebas.

11. Pengunjung dapat meninggalkan komentar

Jika website biasa hanya menyediakan komunikasi satu arah, pengunjung hanya menerima apa yang mereka baca di halaman website tersebut tanpa bisa mengomentarinya, sedangkan blog memberikan komunikasi dua arah antara peserta pemilik blog dengan peserta pengunjung blog. Bahan ajar yang di publikasi dapat diberi komentar, dan komentar dapat dibalas dengan pengunjung lain ataupun peserta pemilik blognya.

12. Artikel atau konten mudah di-update secara berkala

Ini juga salah satu perbedaan yang menonjol blog dengan website. Karena dikhususkan untuk kalangan pribadi, blog dapat di-update secara berkala. Meski tidak setiap hari, tapi blog identik dengan update posting. Beda halnya dengan website, sekali update langsung jalan dan informasinya cenderung tidak berubah-ubah. Dalam hal ini, peserta Diklat dapat memposting bahan ajar secara mudah dan berkala, baik berupa tugas yang diberikan mentor, maupun bahan ajar mentor dan tulisan pribadi peserta Diklat itu sendiri.

13. Artikel diurutkan secara kronologis

Awal perkembangannya, blog memang diperuntukkan sebagai buku harian atau wadah untuk menulis inspirasi di dunia maya, tempat mengungkapkan isi hati dan tempat curhat. Untuk itu, blog diurutkan berdasarkan waktu. Namun, perkembangan saat ini blog juga digunakan untuk berbagi informasi (posting tutorial), media iklan, toko online, bahkan sebagai media pembelajaran. Peserta Diklat dapat memantau secara berkala, berdasarkan urutan tanggal posting terhadap artikel atau bahan ajar yang diposting. Jika pun sebuah bahan ajar lupa diposting pada hari yang sama saat mendapatkan bahan ajar dari mentor, peserta Diklat dapat mengatur hari dan tanggal postingnya mundur atau maju dari tanggal yang seharusnya.

14. Mudah dalam menambahkan konten baru

Karena blog diciptakan sebagai buku harian online maka fiture yang diutamakan adalah mudah dalam mengelola bahan ajar untuk update setiap saat. Hal ini membuat peserta Diklat yang awam pun dapat mempublikasikan tulisannya dengan mudah, dan mendorong penyebaran blog.

Kesiapan Mentor dan Peserta

Belajar menggunakan media blog dalam proses pembelajaran atau proses pembelajaran berbasis blog berbeda dengan pembelajaran konvensional atau bahkan dengan e-learning. Pembelajaran konvensional dilakukan secara tatap muka dan dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Sementara pembelajaran melalui e-learning dalam beberapa hal memiliki kemiripan dengan pembelajaran berbasis blog. Hal ini dikarenakan antara belajar dengan e-learning dan blog sama-sama memanfaatkan teknologi informasi sebagai sarananya. Lebih khusus, kedua pembelajaran ini memiliki kesamaan dalam hal pemanfaatan jaringan internet sebagai medianya.

Akan tetapi, proses pembelajaran e-learning tidak melulu menggunakan jaringan internet, sementara pembelajaran berbasis blog niscaya menggunakan jaringan internet. Hal ini dikarekan blog hanya bisa diakses melalui layanan jaringan internet. Hal ini pula yang menjadi titik kelemahan pembelajaran berbasis blog, terutama jika peserta Diklat berada di daerah-daerah yang sulit terjangkau atau bahkan tidak ada akses internetnya. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangan pembelajaran berbasis blog.

Oleh karena sifatnya yang khas dan berbeda dari pembelajaran konvensional dan e-learning, proses pembelajaran berbasis blog memerlukan penanganan khusus. Mentor, peserta bahkan daerah asal peserta menjadi titik fokus perhatian dan menjadi bahan pertimbangan.

Dari segi mentor, tentulah seorang mentor dalam Diklat berbasis blog memiliki kemampuan khusus dalam bidang pemanfaatan teknologi informasi, khususnya dalam hal membuat, merancang, mendesain dan mengembangkan sebuah blog. Paling tidak, kemampuannya dalam memanfaatkan teknologi informasi haruslah di atas kemampuan rata-rata peserta. Mentor, tentunya juga peserta Diklat, harus memiliki blog sebagai media pembelajaran. Blog yang digunakan peserta bisa blog pribadi yang sudah ada, atau blog baru yang dibuat khusus untuk Diklat. Namun dalam hal ini, penulis menyarankan blog yang dipakai sebagai media pembelajaran adalah blog baru yang dibuat khusus untuk pembelajaran jarak jauh, dengan menggunakan nama pribadi peserta sebagai domainnya. Jika memungkinkan, peserta Diklat dapat memanfaatkan domain berbayar seperti .com, .net, .id, .info dll. Untuk keseragaman, sebaiknya menggunakan layanan domain berbayar yang sama untuk semua peserta dan mentor, misalnya www.namapeserta.info atau www.namapeserta.net.

Dari segi peserta, selain harus memiliki blog pribadi sebagai media pembelajaran, peserta juga dituntut memiliki kemampuan dasar mengelola dan mendesain sebuah blog. Untuk memiliki kemampuan ini, penyelenggara Diklat dapat melakukan menjaringan peserta dengan persyaratan calon peserta sudah memiliki blog atau memiliki kemampuan membuat, mendesain dan mengelola sebuah blog, meskipun hanya tingkat dasar. Jalan lain yang bisa dilakukan penyelenggara Diklat jarak jauh adalah melakukan pelatihan dasar membuat, mendesain dan mengelola blog kepada calon peserta. Hal ini penting dilakukan agar semua peserta tidak mengalami kesulitan mengikuti proses pembelajaran berbasis blog.

Hal yang tak kalah penting adalah terkait teknik pemilihan lokasi calon peserta. Meskipun diklat berbasis blog bisa dilakukan tanpa terbatas oleh suatu jarak, waktu dan tempat tertentu, tentu daerah asal peserta perlu menjadi pertimbangan. Penjaringan calon peserta hanya boleh dilakukan jika daerah peserta tersedia jaringan internet, baik melalui warung internet, menggunakan modem, atau memanfaatkan jaringan wifi yang tersedia di cafe, mal, kampus, rumah sakit dan tempat umum lainnya. Perlu dipastikan juga bahwa jaringan internet di daerah peserta tidak mengalami gangguan, agar peserta dapat mengikuti semua tahap pembelajaran yang sudah ditetapkan.

Proses Pembelajaran Berbasis Blog

Setelah mentor, peserta dan daerah peserta sudah tidak menjadi kendala, barulah sebuah proses Diklat berbasis blog bisa dilakukan. Tentu proses pembelajarannya berbeda dengan proses pembelajaran dengan menggunakan metode atau sarana lainnya. Proses pembelajaran berbasis blog dapat dilakukan meskipun penyelenggara, mentor, dan peserta saling berjauhan bahkan tidak saling mengenal secara personal.

Hal pertama yang dilakukan adalah penyelenggara Diklat atau mentor membuat dan membangun sebuah blog sebagai media untuk menjaring peserta Diklat. Dalam hal ini kita sebut sebagai blog utama. Blog utama bisa dimanfaatkan dengan berbagai keperluan, mulai dari penjaringan/seleksi peserta, pendaftaran calon peserta, media tanya jawab, media informasi tentang Diklat yang akan dilaksanakan, maupun sebagai forum diskusi antar peserta saat pedaftaran, pelaksanaan dan setelah Diklat berakhir.

Lebih dari itu, blog utama menjadi media pembelajaran, baik untuk mendownload bahan ajar/modul, jadwal Diklat, menonton video tentang Diklat, maupun sebagai media saling tukar info dan materi Diklat. Melalui blog utama tersebut pula, mentor atau penyelenggara Diklat menyebarkan materi Diklat secara berkala sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Semua peserta juga dituntut untuk selalu memantau blog utama untuk mengetahui materi Diklat yang diposting atau melihat blog pribadinya untuk mengetahui notifikasi materi Diklat yang diposting di blog utama. Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta juga harus diposting secara berkala sesuai jadwal yang ditentukan. Selanjutnya jawaban peserta dari tugas tersebut dapat dikirim melalui forum khusus yang tidak bisa diakses oleh peserta lain. Alternatif lainnya adalah setiap blog peserta harus diseting agar tidak bisa dicopy oleh peserta lain atau pengunjung blog. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya plagiat jawaban antar peserta.

Tidak hanya blog utama tentunya yang harus menjadi perhatian mentor atau penyelenggara. Blog para peserta pun harus menjadi perhatian agar blog tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh peserta sebagai media pembelajaran, baik untuk mengakses materi Diklat, melihat video tutorial tertentu, mengirim tugas, menanggapai atau mengomentasi materi Diklat, atau untuk forum-forum lain yang terkait dengan proses pembelajaran. Dengan kata lain, jangan sampai tampilan, fitur dan desain blog peserta justru menyulitkan peserta dalam proses pembelajaran. Mentor atau penyelenggara perlu menentukan standar yang ketat tentang fitur, tampilan atau desain minimal yang tersedia di blog peserta.

Fitur, tampilan atau desain tersebut tentunya dipergunakan untuk mendukung proses pembelajaran agar berjalan sukses dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Segala aktivitas yang terjadi di blog peserta juga perlu diatur dengan standar tertentu untuk menghindari adanya konten atau muatan-muatan yang tidak relevan dengan proses pembelajaran, atau bahkan mengganggu proses pembelajaran. Lebih dari itu, fitur dan tampilan blog peserta haruslah membuat peserta pemilik blog, peserta lain, atau bahkan pengunjung umum merasa nyaman mengunjungi blog tersebut.

Penutup

Dewasa ini, banyak media dan sarana yang digunakan sebagai media pembelajaran, khususnya pembelajaran jarak jauh. Penyebaran berbagai media dan sarana tersebut tentu menjadi kabar gembira bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang memerlukan media dan metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Terlebih pemanfaatan media dan sarana tersebut tidak lagi dibatasi oleh jarak, ruang dan waktu tertentu. Salah satu media yang bisa digunakan adalah media blog. Dibanding media lain, blog tentu memiliki keunggulan tersendiri, di antaranya pembuatan dan pemanfaatannya sangat mudah dan murah atau bahkan gratis.

Penulis merekomendasikan pemanfaatkan media blog dalam pembelajaran jarak jauh dikarenakan sejauh ini pemanfaatan blog lebih banyak dipakai untuk pengganti buku harian, menyalurkan hoby menulis, menyebarkan isu dan informasi, sebagai media iklan, bahkan sering dipakai sebagai media belanja online. Kini, sudah saatnya blog dimanfaatkan untuk mencerdaskan generasi bangsa secara langsung melalui Diklat, khususnya bagi peserta Diklat.

Pemanfaatan blog dalam dunia belajar mengajar jarak jauh memang bukanlah hal yang umum, bahkan belum pernah dilakukan oleh penulis sendiri pun. Tulisan ini barulah dalam tataran konsep, dengan harapan suatu saat penulis sendiri atau pembaca tulisan ini dapat mengaplikasikannya secara langsung. Tentu hal ini tidaklah mudah, karena selain merupakan media baru dalam proses pembelajaran jarak jauh, juga memerlukan keahlian dalam pengelolaan dan pemanfaatan teknologi informasi, khususnya blog. 

Jakarta, 05 Februari 2015

Penulis: 
Zainudin
Widyaiswara Muda Badan Diklat Kemendagri

Artikel ini ditulis sebagai tugas Mata Diklat Pembelajaran Jarak Jauh (pengampu Dr. Wahyu Suprapti, M.Psi-T) pada pelaksanaan Diklat Kewidyaiswaraan  Berjenjang Tingkat Madya Angkatan I Tahun 2015 yang dilaksanakan pada tanggal 02 s.d. 14 Februari 2015 bertempat di Badan Diklat Kemendagri Jl. TM. Pahlawan Nomor 8 Kalibata Jakarta Selatan
»»  Selengkapnya
 

Jasa Pembuatan Blog