Hari
Berlangganan melalui Email
Berlanganan
Ikuti saya di facebook
Facebook
Ikuti saya di twitter
Twitter
Advertise | Hubungi Saya | Buku Tamu | About us | Kegiatan | Peta Situs

Terjemah

Followers

Kirim Pesan

Name

Email *

Message *

Warga Perbatasan Belajar Bikin Film Dokumenter

PHYLOPOP.com - Dua sutradara film dokumenter dari Amerika Serikat, Richard Pearce dan Freida Mock, baru-baru ini mengunjungi Loncek dusun di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, di mana mereka berkumpul dengan penduduk setempat, putus sekolah tinggi terutama remaja, dan mengajari mereka cara membuat film dokumenter sederhana dengan ponsel mereka.

Di dusun yang relatif terisolasi, terletak sekitar 75 kilometer dari ibukota provinsi Pontianak, remaja sebelumnya telah terlibat dalam kegiatan konversi hutan, tapi sejak LSM memprakarsai program ramah lingkungan di daerah, mereka telah mengubah pemikiran mereka.

Mereka telah berpaling ke kegiatan produktif, seperti menabur bibit dan menanam pohon karet. Mereka bahkan telah menulis sebuah buku tentang tradisi dan sejarah dusun mereka 105 tahun.

Pearce dan Mock itu kunjungan adalah bagian dari American Film Showcase (AFS) Program diplomasi budaya, diprakarsai oleh Departemen Luar Negeri AS dengan dana dari University of Southern California School of Cinematic Arts (SCA). Selain Kalimantan Barat, program AFS juga akan digelar di sejumlah kota di Jawa dan Sumatera.

Pearce dan Mock disambut dengan ritual Dayak tradisional, termasuk tarian. Mereka berdua merekam acara tersebut. Mock disajikan dengan pisau mandau tradisional untuk memotong tiang bambu muda didirikan di gateway, dan ia tersebar nasi kuning ke arah penonton.

Dusun Loncek belum terhubung ke jaringan listrik karena lokasinya yang terpencil. Satu-satunya akses ke dusun adalah melalui jalan tanah, sementara jaringan telepon selular hanya baru-baru ini didirikan di daerah.

"Masyarakat sangat tradisional tetapi mereka menghadapi masalah modern, seperti perampasan tanah oleh perusahaan multinasional," kata Pearce The Jakarta Post.

Dia mengatakan dia terkesan dengan orang-orang muda yang ditemuinya di desa yang sudah akrab dengan smartphone dan internet. Mereka memiliki beberapa pengalaman media sosial, menulis blog, penerbitan buku dan bahkan membuat film dokumenter sederhana tentang desa.

"Mereka telah melakukan semua hal ini. Ini adalah awal yang baik untuk melanjutkan perjuangan mereka melalui film dokumenter, untuk berbagi cerita hidup dan impian mereka dengan dunia, "tambah Pearce, yang film, Heartland, berbagi penghargaan Golden Bear untuk Film Terbaik pada 1980 Berlin International Film Festival.

Sementara itu, Mock dan kaum hawa desa, termasuk gadis-gadis muda, membahas cerita dan peran perempuan dalam industri film. Mereka berlatih cara untuk membuat film dokumenter dengan menggunakan smartphone, kemudian mengidentifikasi ide-ide dan masalah-masalah yang mereka hadapi yang bisa dibuat menjadi sebuah cerita.

"Ini fantastis! Kau tahu, workshop yang diberikan oleh seorang wanita pembuat film untuk wanita dan anak perempuan di desa ini, "kata Mock, yang dokumenter, Maya Lin: Visi yang kuat, memenangkan Academy Award untuk Best Documentary Feature pada tahun 1994.

Loncek, salah satu dari tujuh dusun di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, dihuni oleh 876 orang dan dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit.

Kepala putus sekolah 'masyarakat petani di dusun, Leonardus, kata warga saat ini terlibat dalam mencoba untuk melindungi keluarga mereka' tanah dari ekspansi industri. Di antara sejumlah kemungkinan pendekatan, membuat film dokumenter dianggap sebagai pilihan yang signifikan.

"Alih-alih menggunakan smartphone hanya untuk mendengarkan musik, kami mencoba untuk menggunakannya untuk sepenuhnya mereka dengan membuat sebuah film dokumenter. Hal ini akan memperkuat perjuangan kita [untuk menyelamatkan tanah kami], "kata Leonardus.
»»  Selengkapnya

Mengintip Pribadi Jokowi Lewat Blog Putra Sulungnya

PHYLOPOP.comSiapa menyangka, anak bungsu Presiden RI terpilih, Joko Widodo, yaitu Kaesang Pangarep doyan menulis di situs blog. Belakangan, tulisan-tulisan di blog pribadinya tersebut mendapat banyak perhatian netizen, terlebih karena cara bertuturnya yang terkesan polos dan apa adanya.

"Ini blog mendadak jadi ngehits banget. Saking penasarannya, ikut2an juga gue baca n sukses ngakak guling2 sampe ngeluarin air mata..." demikian tulis akun Facebook Sinta Eva mengomentari salah satu tulisan Kaesang di blog pribadinya.

Blog milik Kaesang Pangarep yang diberi nama "Diary Anak Kampung" bisa dikunjungi melalui alamat, http://misterkacang.blogspot.sg dan misterkacang.blogspot.com 

Sebenarnya, Kaesang sendiri belum terang-terangan mengakui situs blog tersebut miliknya. Saat ditanya, apakah blog "Diary Anak Kampung" miliknya, Kaesang hanya mengatakan," Ada deh". Meski demikian, hampir bisa dipastikan ditulis oleh Kaesang sendiri karena di akun Twitter Kaesang, @kaesangp, terdapat tautan blog tersebut. Selain itu, pada blog terdapat foto Kaesang sesaat sebelum pergi menghadiri pelantikan ayahnya, Joko Widodo. Foto yang sama diunggah juga di akun Twitter Kaesang.

Menurut pantauan KompasTekno, blog tersebut sudah dibuat sejak September 2011. Domain yang digunakan .sg (Singapura) dipilih karena saat pembuatannya, putra Presiden RI ke-7 tersebut sedang menempuh pendidikan di negara tersebut.

Blog tersebut sempat tidak bisa diakses pada tanggal 20-21 Oktober 2014. Hanya orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya atas persetujuan Kaesang. (baca: Ini Jawaban Putra Bungsu Jokowi soal Blog "Mister Kacang")

Namun belakangan, Kaesang yang kini berusia 20 tahun membuatnya terbuka lagi untuk publik. Situs blog Kaesang kembali bisa diakses pada Rabu (22/10/2014) yang juga memuat tulisan terbarunya yang berjudul "Tanggal 20 Oktober 2014."

Kaesang terlihat cukup konsisten dalam menulis di blog-nya. Terlebih di waktu-waktu awalblog tersebut dibuat. Terbukti dari arsip blog-nya yang rata-rata dua bulan sekali ia mem-posting tulisan baru. Jumlah postingannya sempat turun pada tahun 2013. Hal itu diakui oleh Kaesang sendiri dalam halaman Bio akun Blogspot-nya. Di situ, ia menulis alasannya adalah jumlah pengunjung yang sepi.

Tulisan-tulisan Kaesang banyak bercerita tentang kehidupan sehari-harinya selama hidup menuntut ilmu di Singapura, serta kegalauannya karena hidup men-jomblo (tidak punya pacar), serta celotehan-celotehan ala anak muda zaman sekarang yang akrab dengan budaya populer.

Seperti dalam tulisannya yang berjudul "SIRI vs. Mbak Sri" yang di-posting tanggal 5 November 2011. Tulisan itu menunjukkan bahwa Kaesang ternyata juga melek gadget, setidaknya ia tahu teknologi voice assistant yang diperkenalkan oleh Apple itu. Bisa jadi ia adalah pengguna iPhone.

Walau tulisan itu mencoba memperkenalkan apa itu Siri, namun ia menjelaskannya dalam bentuk cerita dan sedikit plesetan.

Selain melek teknologi, nampaknya budaya populer juga akrab bagi anak muda kelahiran 25 Desember 1994. Layaknya remaja seusianya, Kaesang juga mengaku sering dikait-kaitkan dengan WOTA, sebutan untuk fans grup band perempuan, JKT48. Kaesang mengaku dalam blog-nya banyak yang bertanya ke Twitter apakah ia seorang WOTA atau tidak.

Kaesang tidak menjawab secara langsung, namun ia mengakui telah mem-follow akun Twitter salah satu member JKT48, Elaine Hartanto.

"Gimana gue bisa suka kalau kenal aja nggak. Ya masa cuma nge-follow twitter doi, terus pada ngira gue suka," demikian kilah Kaesang.

Gaya tulisannya yang ceplas-ceplos dan apa adanya memang sering mengundang senyum dari pembacanya. Terlihat dari komentar-komentar yang ditulis dalam postingan blog Kaesang. Hal itu tentunya membuat orang bertanya-tanya, "Masa anak presiden seperti ini sih?" dalam konteks yang positif tentunya."

Memang sepanjang sejarah berdirinya, jabatan Presiden Republik Indonesia beserta atribut yang melekat, termasuk keluarganya, seolah menjadi sesuatu yang angker dan serius.

Mungkin, gaya spontan dan ceplas-ceplos yang ada di diri Kaesang itu juga menurun dari ayahnya, Joko Widodo yang gaya kepemimpinannya selama ini dikenal spontan dan santai, seolah tidak mau terikat oleh aturan-aturan protokoler yang baku.

Hal itu tercermin di hari pertama pelantikannya, dimana Joko Widodo secara tiba-tiba menghampiri warga yang menunggunya di pagar Istana Negara setelah ia menyelesaikan sesi wawancara dengan televisi swasta.

"Down to earth"

Kembali ke gaya bertutur Kaesang dalam blog-nya, banyak yang tidak menduga bahwa keluarga presiden itu sebenarnya bisa sesantai itu.

Terkadang, dari tulisan-tulisan Kaesang, pembaca juga diajak mengenal bahwa sosok dirinya, beserta keluarganya (termasuk ayahnya yang kini seorang Presiden RI), juga menjalani hidup seperti orang-orang biasa.

Seperti dalam postingan terbarunya berjudul "Tanggal 20 Oktober 2014" Walau ia tidak secara spesifik menulis apa makna tanggal itu bagi dirinya, namun seluruh pembaca tahu bahwa tanggal itu ayahnya akan dilantik menjadi Presiden RI ke-7.

Di situ, Kaesang dengan kocak memulai tulisan dengan topik yang sama sekali tidak berhubungan soal pelantikan ayahnya tersebut, yaitu jomblo. 

"Hari ini mungkin sesuatu yang spesial untuk bangsa Indonesia, khususnya untuk makhluk-makhluk jomblo yang berkeliaran di negeri ini. Hari dimana pergantian presiden yang lama ke presiden yang baru. Ini menentukan apakah Indonesia bisa menjadi negara yang ramah jomblo atau tidak. 

Kenapa harus ramah jomblo? Karena gue sendiri jomblo dan masih banyak jomblo-jomblo yang bertebaran di negara Indonesia. Apalagi kalau ada turis yang jomblo datang ke Indonesia, jadi bisa lebih betah disini kalo kita menjadi negara ramah jomblo. Jadi bukan cuma ngebuat orang lokal nyaman, tapi bisa buat turis juga nyaman."

Masih dalam tulisan yang sama, Kaesang dengan polosnya bercerita bagaimana ia dibangunkan oleh kakaknya dengan cara kasur yang ditendang-tendang, bagaimana ia berinteraksi dengan seluruh keluarganya yang terkesan santai, seperti saat harus berebut kamar mandi karena takut terlambat menghadiri acara pelantikan di gedung DPR/MPR. Serta kejahilan lain yang ditulis Kaesang dalam blog berjudul "Cerita Horor".

"Dari blog dia, kita bisa merasa, wah presiden itu ternyata manusia biasa juga. Apalagi yang pas rebutan ke kamar mandi," tulis Selvia di akun Facebook yang menyertakan tautan blog Kaesang.

"Waahhh senengnyaa baca tulisan2 di blog ini, seperti membaca & melihat sisi lain kehidupan pak Jokowi. Keep writing. Ditunggu update tulisan berikutnya," komentar Maya Siswadi di Blog Kaesang.

Namun, ada pula yang berpendapat, bagaimana jika nanti gaya bertutur Kaesang justru menjadi bumerang bagi dirinya dan keluarganya, terlebih kepada ayahnya yang seorang Presiden RI. Seperti yang ditulis oleh akun Facebook milik Henny, "Lucu juga tulisannya, bakal dijadikan bahan bully gak ya?"

Namun terlepas dari itu semua, blog adalah salah satu media berekspresi dalam bentuk tulisan. Banyak yang menyukai gaya berututur Kaesang yang walau kini telah menjadi putra seorang Presiden, namun gayanya tidak berubah. Mereka menginginkannya untuk tetap "down to earth."

"Hahahaha sukses yaaa!!! Keep down to earth and be yourself, apa adanya. Thumbs up!!" tulis Sinta Eva.

Di kolom komentarnya pun sebagian blogger yang baru tahu siapa jati diri "Mister Kacang" ini banyak yang mengapresiasi gaya menulisnya, dan berharap tetap menjadi dirinya.

"xixixixi bahasa rakyat jelata... lanjutkan tak apa bung jadilah diri sendiri... ane juga rakyat jelata bahasa ente buhh asikkk gak norak-norak amat.. lanjut dah posting terus gan..." demikian tulis Rai Saepudin di kolom komentar (kompas.com).
»»  Selengkapnya

Lomba Artikel Blogger Tentang Sistem Keuangan

PHYLOPOP.comStabilitas sistem keuangan (SSK) memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Pengalaman menunjukkan, sistem keuangan yang tidak stabil, terlebih lagi jika mengakibatkan terjadinya krisis, memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk upaya penyelamatannya. 

Pelajaran berharga pernah dialami Indonesia ketika terjadi krisis keuangan tahun 1998, dimana pada waktu itu biaya krisis sangat signifikan. Selain itu, banyak isu-isu lain yang berkaitan erat dengan stabilitas sistem keuangan nasional seperti mengapa down payment (DP) kredit properti dinaikkan, mengapa BI masih menjadi lender of last resort, mengapa BI masih mengawasi Bank dan lainnya.

Terkait hal tersebut, Kompasiana dan Bank Indonesia mengajak Kompasianer sekalian untuk berbagi pandangan, ulasan dan/atau reportase terkait bagaimana menjaga sistem keuangan agar tetap stabil. Dengan berbagi pandangan, ulasan dan/atau reportase seputar hal tadi, kita sebagai masyarakat Indonesia akan memberikan kontribusi yang besar terhadap bangsa ini. Berikut rinciannya:

Syarat dan Ketentuan Lomba
  • Peserta terdaftar sebagai anggota Kompasiana. Jika belum terdaftar, silahkan Anda registrasi dahulu di sini.

  • Peserta sudah terverifikasi, belum terverifikasi? Verifikasi di sini. (Mohon konfirmasi melalui message ke akun Admin Kompasiana jika sudah melakukan verifikasi)

  • Tulisan bersifat baru, orisinal (bukan karya orang lain atau hasil plagiat), dan tidak sedang dilombakan di tempat lain.

  • Tulisan berupa reportase atau opini (BUKAN karya fiksi).

  • Konten tulisan tidak melanggar Tata Tertib Kompasiana.

  • Dapat mengirimkan lebih dari satu tulisan sesuai dengan aturan jeda tayang Kompasiana.
Mekanisme Lomba
  • Tema Lomba: Bagaimana Menjaga Sistem Keuangan Agar Tetap Stabil
  • Peserta wajib mencantumkan tag: stabilitassistemkeuangan dalam tiap tulisan (tag ditulis tanpa tanda kutip).

  • Periode lomba akan berlangsung dari tanggal 1 Oktober - 21 November 2014

  • Tulisan yang tidak sesuai dengan ketentuan dan tema lomba tidak bisa diikutkan lomba.

  • Tulisa wajib dishare di twitter dengan mention @bank_indonesia dan hashtags #SSK

  • Pengumuman pemenang akan diumumkan dua minggu setelah periode berakhir
Hadiah
  • Pemenang I: Logam Mulia 25 gram

  • Pemenang II: Logam Mulia 10 gram

  • Pemenang III: Logam Mulia 5 gram

  • 7 Pemenang Favorit: mendapatkan uang tunai @ Rp 1.000.000
Agar Kompasianer mendapatkan informasi dan referensi terkait tema blog competition ini, Kompasiana dan Bank Indonesia juga akan melakukan serangkaian Nangkring yang akan diselenggarakan di tiga kota. MedanBalikpapan danYogyakarta terpilih sebagai kota-kota yang akan dikunjungi. Rincian dan pendaftaran terbuka dapat dilihat di SINI

Bagi Kompasianer yang berada di luar tiga kota tersebut, jangan berkecil hati, kalian pun dapat mengikuti blog competition ini dengan beragam referensi dan informasi tambahan yang bisa didapatkan pada situs web Bank Indonesia.
»»  Selengkapnya
 

Jasa Pembuatan Blog